SELAMAT DATANG DI BLOG MALAYCELAKA, CELAKALAH ORANG - ORANG MALAYSIA YANG TELAH MENYIKSA TKI INDONESIA, DAN SEGALA AKSI TINDAKAN BODOH NYA TERHADAP BANGSA INDONESIA.PENULIS TIDAK SEDANG BERPERANG, TAPI PENULIS SEDANG MENYENTIL LEWAT TULISAN.

MALINGSIA ibarat VIRUS, dia telah menggerogoti wilayah kita indonesia. blog dan web yang menghina kesatuan indonesia kini bertebaran di dunia maya. itu bukan penghormatan, melainkan penghinaan besar terhadap negara kita indonesia. apa kesan anda setelah membaca dan melihat semua itu? pasti sakit, kecewa, dan terasa terinjak - injak harga diri kita. apa lagi saudara kita yang pernah tersiksa di sana, sudah pasti menimbulkan luka yang sangat dalam. apakah kita cuma tinggal diam melihat semua itu? sudah barang tentu tidak!!!untuk itu sudah saatnya kita bangkit, sudah saatnya kita sadar, sudah saatnya kita peduli terhadap bangsa kita sendiri yaitu indonesia. kalo bukan kita, siapa lagi? mari kita perangi bersama untuk malingsia yang suka menghina dan menyakiti saudara kita. !

Malaysia Sudah Minta Maaf, Proses Hukum Kasus TKI Tetap Jalan Terus

Jakarta Kepolisian Malaysia sudah meminta maaf terkait tewasnya tiga TKI asal NTB. Meski demikian, proses hukum kasus itu harus tetap berjalan.

"Permintaan maaf boleh saja, tapi di dalam konteks kasus ini tidak menghilangkan kasusnya. Proses hukum penuntasan kasus ini harus jalan terus," kata Anggota Komisi I DPR, Poempida Hidayatulloh, dalam diskusi 'Mengurus TKI Setengah Hati' di Kafe Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (28/4/2012).

Menurut Poempida, kasus tewasnya tiga TKI asal NTB di Malaysia harus diproses secara tuntas. Namun bukan mengenai indikasi adanya penjualan organ, tetapi pada peristiwa penembakan yang menurutnya tidak sesuai prosedur.

"Saya curiga banyak hal, dari konteks polisi saat peristiwa itu ada berapa sih, masa lima orang polisi menghadapi tiga orang harus menggunakan tembakan. Ini kan ada prosedur yang tidak wajar," ujarnya.

Menurut Poempida, ada kesalahan prosedur yang dilakukan polisi Malaysia dalam menangani dugaan tindakan kriminal yang dilakukan ketiga tenaga kerja asal Indonesia tersebut. Apalagi, ia menambahkan, pada ketiga tubuh TKI terdapat banyak bekas tembakan yang tidak wajar.

"Kan sebenarnya kalau kita lihat saja satu tembakan cukup untuk melumpuhkan orang, kalau ini harus diberondong peluru maka tidak wajar," tuturnya.

Untuk itu, ia akan meminta pemerintah untuk menyelidiki kronologis dari peristiwa penembakan tersebut. Saya akan minta kepada Pak Marty untuk menyelidiki kronologinya," imbuhnya.
 
Sumber : Detik.com
catatan : lagi - lagi kan ??? malasia anjing memang musuh bebuyutan indonesa, selalu membuat ulah dan TKI selalu mati disana. kejam!

3 TKI Diduga Korban Pencurian Organ Malaysia

Pemulangan tiga jasad tenaga kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia menerbitkan kecurigaan anggota keluarga mereka. Mereka mempertanyakan kondisi jasad yang tak wajar dan penuh jahitan. Dugaan sementara, bahwa para buruh migran itu jadi korban perdagangan organ, kini menyeruak.

Koordinator Divisi Advokasi Migrant Care Nur Harsono menyebutkan tiga TKI itu berasal dari Desa Pancor Kopong Pringgasela Selatan dan Pengadangan, Lombok Timur, NTB. Mereka adalah Herman (34), Abdul Kadir Jaelani (25), dan Mad Noon (28), bekerja di negeri jiran sebagai buruh di perusahaan konstruksi dan perkebunan kelapa sawit. Mereka dipulangkan dalam kondisi tak bernyawa.

"Semua korban dijahit pada kedua mata, kemudian di dada bagian atas, dekat lengan kanan ke kiri, lurus melintang," kata Nur saat dihubungi VIVAnews.com, Senin 23 April 2012.Kondisi jasad korban menerbitkan kecurigaan. "Semua korban dijahit pada kedua mata."

Selain itu, juga ada juga jahitan di dada hingga tengah perut di bawah pusar, yang menyambung jahitan dada atas. "Keluarga patut curiga sebab tidak ada surat keterangan yang menyebut korban diotopsi," tambah dia.

Nur Harsono menambahkan, sebelum dinyatakan meninggal, ketiga korban diketahui sedang memancing. "Salah satu korban, Herman sempat menelepon istrinya, bahwa dia sedang memancing dengan dua temannya," kata dia. Telepon terakhir diterima keluarga pada 23 Maret 2012 lalu.

Tiga hari kemudian, dia menambahkan, salah satu keluarga korban mendapat informasi tentang penemuan dua motor korban di area pemancingan dari koran lokal di Malaysia pada 26 Maret 2012. Pihak keluarga yang mendatangi Hospital Port Dickson di Malaysia, mendapati tiga TKI tersebut dinyatakan meninggal pada 30 Maret dengan keterangan karena luka tembak.

Nur Harsono menambahkan dalam surat keterangan Kedutaan Besar RI di Malaysia, juga tidak disebutkan alasan meninggalnya para korban. "Ditandatangani oleh Heru Budiarso, hanya menyatakan korban akan dikebumikan di Indonesia dan akan dibawa dengan pesawat Garuda Indonesia," kata dia.

Pihak KBRI juga menyebutkan karena kondisi yang tidak memungkinkan, mereka tidak melakukan pengecekan sebab kematian sebagaimana tersebut di atas. KBRI di Kuala Lumpur menyatakan tidak bertanggung jawab terhadap kondisi jenazah yang dikirim. "Kami akan melaporkan kasus ini ke Kementerian Luar Negeri pukul 13.00 hari ini," kata dia. Migrant Care dan LSM setempat, Kosala berharap Kemenlu dengan cepat menangani kasus ini.

Nur Harsono mengatakan, jika terbukti organ para TKI diambil tanpa persetujuan, kuat diduga itu merupakan bagian dari praktik perdagangan manusia. "Modus-modus trafficking tak hanya dieksploitasi tenaga dan secara seksual, tapi juga narkoba dan penjualan organ," tambah dia.

Sumber : vivanews.com

Dikecam Soal Deportasi Penghina Nabi Muhammad, Malaysia Membela Diri


Kuala Lumpur - Pemerintah Malaysia dikecam sejumlah pihak karena mendeportasi jurnalis Arab Saudi yang terancam hukuman mati karena menghina Nabi Muhammad lewat Twitter. Namun pemerintah Malaysia membela keputusannya itu. Ditegaskan bahwa Malaysia bukan tempat persembunyian bagi para buronan.

"Jangan lihat Malaysia sebagai negara transit yang aman atau tempat persembunyian bagi mereka yang diburu oleh negara asal mereka," tegas Menteri Dalam Negeri Malaysia Hishammuddin Hussein pada konferensi pers di Kuala Lumpur.

"Saya tak akan berkompromi. Jangan pikir Anda bisa datang dan keluar Malaysia begitu saja. Jangan pernah memandang Malaysia sebagai negara transit yang aman," imbuhnya seperti dilansir AFP, Senin (13/2/2012).

Hamza Kashgari, jurnalis Saudi tersebut, ditahan di Malaysia setelah kabur dari negaranya. Pria tersebut ditangkap setibanya di Malaysia. Pemuda berumur 23 tahun itu pergi meninggalkan Saudi karena khawatir akan keselamatan dirinya usai menuai kemarahan publik lewat kicauannya di Twitter.

Postingannya di Twitter, yang bertepatan dengan Hari Maulud Nabi belum lama ini, dianggap menghina Nabi Muhammad. "Saya mengasihi hal-hal tentang Anda dan saya membenci hal-hal tentang Anda dan ada banyak yang tidak saya mengerti tentang Anda. Saya tak akan berdoa untuk Anda," demikian kicauan Kashgari.

Di Saudi, tindakan menghina Nabi Muhammad bisa diancam dengan hukuman pancung.

Kelompok-kelompok HAM sebelumnya mencetuskan, mendeportasi Kashgari sama dengan menghukum mati. Malaysia pun sempat didesak untuk membebaskan Kashgari. Namun pria muda itu dipulangkan ke negeri asalnya pada Minggu, 12 Februari lalu.

Malaysia tak memiliki perjanjian ekstradisi resmi dengan Saudi. Tak ayal, deportasi itu pun menuai kecaman dari kelompok-kelompok HAM.

Organisasi Human Rights Watch mencetuskan, deportasi itu merupakan kegagalan pemerintah Malaysia untuk menghormati hak-hak standad manusia. "Dan jika dia menghadapi eksekusi di Arab Saudi, berarti tangan pemerintah Malaysia akan berlumuran darah," tegas Human Rights Watch.

sumber : Detik.com

Kisah 9 TKI Asal Jabar Ditipu di Malaysia


Uang Rp5 juta yang dipinjam dari tetangga dan saudara ludes. Paspor pun dibawa kabur.

Perbaikan taraf hidup menjadi harapan besar bagi semua orang. Berbagai upaya meraih kesuksesan pun dilakukan. Perjuangan hidup 9 TKI asal Kabupaten Indramayu Jawa Barat ini salah satunya.

Berharap mendapatkan uang yang banyak, 9 TKI ini mengadu nasib ke Malaysia. Harapan mendapat ringgit pun pupus sudah. Kesembilan TKI itu antara lain, Kasirin (29), Zainal Abidin (24), Taofik Hidayat (33), Tamamun (22), Lukman (22), Jumari (23), Damin (47), Kaeron (30) dan Suganda (37).

Suganda menuturkan, pada awal Desember 2011 lalu, ia bersama rekan-rekannya itu berangkat ke Malaysia. Rencananya mereka akan bekerja sebagai perawat perkebunan kelapa sawit di Miri, Malaysia.

“Awalnya saya mendapat informasi dari teman. Waktu sih janjinya akan kerja jadi perawat kebun kelapa sawit di Miri. Saya pun langsung mengajak teman-teman untuk ikut gabung,” kata Suganda pada VIVAnews, 20 Januari 2012.

Menurut Suganda, ia dan teman-temannya pergi ke Malaysia tanggal 8 Desember 2011. “Gaji yang dijanjikan itu Rp5 juta tanpa potongan apapun. Saya pun menyanggupinya,” tutur Suganda.

Suganda menceritakan, uang untuk keberangkatannya ke negeri jiran itu didapat dari pinjaman pada sejumlah tetangga dan keluarga di Indramayu. “Saya meminjam uang pada tetangga dan keluarga Rp5 juta untuk keperluan administrasi paspor dan transportasi dari kampung ke Malaysia,” ucapnya.

“Sekarang saya benar-benar sedih. Saya malu sama keluarga. Sekarang saya tidak punya uang sepeser pun, saya bingung harus bayar utang Rp5 juta itu pakai apa. Semua teman-teman pun tidak punya uang lagi,” ucap Suganda.

Suganda menuturkan, bersama rekannya, ia menginap di Jakarta satu malam. Keesokan harinya baru bertolak ke Pontianak. “Dari Bandara Supadio Pontianak saya sudah dijemput langsung oleh seseorang memakai sebuah mobil untuk menuju Miri, Malaysia,” kata Suganda.

Setelah dua hari perjalanan, kata Suganda, ia bersama rekannya tiba di Miri, Malaysia. Di sepanjang perjalanan, tak sepatah kata pun keluar dari si pembawa mobil itu.

“Pokoknya dalam perjalanan itu tidak ada omongan apa-apa, seperti bisu saja orang itu,” kata Suganda. “Yang jemput kami itu ada dua orang, sopir dan penunjuk jalan. Saya bersama teman-teman diturunkan di tengah hutan Miri, Malaysia. Ada sebuah gubuk kecil di hutan itu. Mereka bilang, kalian tunggu saja di sini dulu ya, nanti kami jemput lagi,” kata Suganda, menirukan ucapan sang sopir.

Setelah satu hari, sambung Suganda, jemputan pun tak kunjung datang. Mereka panik bukan kepalang. Pasalnya, semua paspor dibawa sang penunjuk jalan. “Paspor kami semua dibawa mereka. Kami juga tak punya uang sedikitpun. Kami pun langsung mencari perkampungan terdekat,” ucapnya.

Keesokan harinya, mereka berjalan kaki menyusuri jalan. Akhirnya mereka sampai di perkampungan. “Kami ketemu orang sana dan kami bilang, kami telah ditipu. Baju kami pun dijual untuk biaya makan. Dari info orang itu, kami pun langsung berjalan kaki lagi menuju kota di Miri. Kami sampai di kantor Polisi Malasysia. Kami terus terang sama polisi, kami ditipu. Akhirnya kami pun menginap di kantor Polisi itu. Hampir satu bulan lah,” kata Suganda.

Rambut digunduli

Sebagai tanda orang baru memasuki Malaysia, kata Suganda, rambut mereka digunduli. “Rambut kami digunduli polisi Malaysia. Katanya sih sebagai tanda sebagai orang baru datang di Malaysia,” ucapnya.

Setelah menjalani pemeriksaan sebulan di kantor polisi Miri Malaysia, mereka pun akhirnya diantar oleh polisi Malaysia ke perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat.

“Dari situ kami langsung dititip ke Imigrasi Entikong. Setelah dari Imigrasi, kami diserahkan ke kantor Polisi Sektor Entikong. Dari sana kami diantar pakai mobil menuju Pontianak. Dan akhirnya kami ini diserahkan lagi ke Dinsos Provinsi Kalimantan Barat pada kamis kemarin, sekitar jam 1 dini hari,” kata Suganda.

Kaeron, korban penipuan lainnya menceritakan, ia pergi ke Malaysia untuk memperbaiki rumah dan mengkhitankan anak laki-lakinya. Harapan mendapat uang banyak pun hanya tinggal cerita saja. Saat ini ia hanya bisa melamun larut dalam kesedihan.

“Saya sudah susah payah pinjam uang Rp5 juta ke tetangga dan keluarga untuk kerja di Malaysia. Tak tahunya malah ditipu. Benar-benar nggak nyangka akan seperti ini,” kata Kaeron. “Untungnya kami tidak disiksa Polisi Malaysia karena kami semua tidak ada paspor. Identitas kami diambil penipu,” kata Kaeron.

Sambil menunggu kabar pulang, kata Kaeron, mereka tinggal di Dinsos Pemprov Kalbar. “Sekarang kami merasa tenang karena sudah berada di Indonesia,” kata Kaeron. “Walaupun harus menunggu, setidaknya kami sudah dekat dengan kampung halaman kami. Mudah-mudahan secepatnya bisa pulang ke Indramayu,” harap Kaeron. (umi)

sumber : vivanews

4 WN Malaysia Selundupkan 20 Kg Sabu & 110 Ribu Butir Ekstasi di Priok


Jakarta - Aparat Direktorat IV Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Mabes Polri kembali menangkap sindikat narkotika jaringan internasional. Kali ini, empat WN Malaysia ditangkap di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara karena menyelundupkan sabu dan ekstasi.

Direktur IV TP Narkotika Bareskrim Mabes Polri Brigjen Arman Depari saat dikonfirmasi membenarkan adanya penangkapan tersebut.

"Dari empat tersangka, kita menyita 20 kilogram sabu dan 110 ribu butir ekstasi," kata Arman saat dihubungi detikcom, Minggu (22/1/2012).

Arman mengatakan, keempat tersangka ditangkap sekitar pukul 09.30 WIB tadi ketika tiba di Terminal Nusantara 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Empat tersangka datang dari Malaysia melalui perairan Batam.

"Dari Batam mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Jakarta dengan menggunakan kapal KM Sirimao," imbuh Arman.

Arman menjelaskan, penangkapan tersebut bermula dari informasi masyarakat. Setelah diselidiki, informasi tersebut ternyata benar, sehingga petugas langsung melakukan penangkapan keempat tersangka.

Dari penangkapan tersebut, polisi kemudian mengembangkan kasusnya. Dua tersangka lain dari jaringan tersebut berhasil ditangkap di Teluk Gong, Jakarta Utara dan Tanjung Duren, Jakarta Barat.

"Jumlah total tersangka ada 6 orang terdiri dari 5 pria dan 1 wanita. Seluruh jaringan teridentifikasi," pungkasnya.

Saat ini, petugas masih mendalami penangkapan tersebut. Keenam tersangka kini ditahan di Mabes Polri untuk pemeriksaan intensif.

sumber : detik

Dilarang Kencing, TKI Sakit Infeksi Saluran Kemih


Endang Susilawati (19) masih terbaring lemah. Ia kini masih mendapat perawatan di RSI Siti Khadijah Palembang lantaran penyakit infeksi saluran kantung kemih yang di deritanya sejak pulang dari Selangor, Malaysia.

Endang ketika ditemui Sripoku.com (Grup Tribunnews.com) di ruang 10 RSI Siti Khadijah Palembang menuturkan, ia berangkat sebagai TKI pada tanggal 18 Februari 2010 lalu melalui PT Citra Karya Sejati secara legal.

Sesampainya di Malaysia, ia bekerja di suatu perusahaan besar yang membuat komponen-komponen handphone.

"Bekerja selama delapan jam, ada dua kali istirahat pukul 10.00 dan 03.00. Tetapi bila dalam waktu bekerja, bila mau buang air baik kecil ataupun besar itu tidak diperbolehkan jadi harus ditahan hingga waktu istirahat," ujarnya
pelan, Kamis (19/1/2012).

Karena sering menahan kencing saat bekerja, akhirnya beberapa kali Endang harus dirawat di rumah sakit sekitar.
Pilunya lagi ketika dirawat di rumah sakit, Endang harus membayar biaya berobatnya sendiri karena ditelantarkan agennya yang berada di Selangor.

Hingga akhirnya Endang memutuskan untuk kembali secara paksa meski kontraknya belum selesai dengan cara meminta bantuan kepada keluarganya yang berada di Desa Sumur, Kecamatan Keramba Kuang, Kabupaten Ogan Ilir (OI).

Pihak keluarga yang menerima berita tersebut langsung mengambil langkah untuk memulangkan Endang dengan bantuan BP3TKI Sumsel.

Dari agennya yang berada di Palembang, Endang hanya dipulangkan dari Selangor dan diturunkan di Batam. Sisanya dari Batam ke Palembang, Endang harus pulang dengan biaya sendiri.

"Kami sangat menyesalkan apa yang dilakukan pihak agen yang menyalurkan Endang, karena tidak adanya perhatian kepada Endang. Saat pulang Endang tak bisa apa-apa, makan dan minum pun harus disuapi," ungkap Kenedi kakak kandung Endang.

Dia juga menambahkan, bila dari perusahaan yang memberangkatkan Endang tidak ada pertanggung jawaban, maka keluarganya akan menuntut baik perusahaan yang ada di Palembang maupun di Selangor Malaysia.

sumber : tribunews

Disiksa Majikan, TKW Kabur dari Malaysia

“Tangan saya, kaki saya dipukuli pakai sapu lidi. Ini muka saya juga ditampar."

Pergi ke negeri jiran demi mendapatkan uang banyak, namun justru derita yang dialami Nuraeni, tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Selebung Ketangga, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat.

Sambil meneteskan air mata, ia bercerita mengenai penganiayaan yang dialaminya selama bekerja di Malaysia. Wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu bekerja di Sibu Sarawak Malaysia sebagai pembantu rumah tangga.

“Tangan saya, kaki saya dipukuli pakai sapu lidi. Ini muka saya juga ditampar, sampai memar biru oleh majikan saya di Malaysia. Saya berharap dapat uang banyak kerja di Malaysia. Malahan derita saya dapatkan,” tutur Nuraeni, kepada VIVAnews.com, Jumat 23 Desember 2011, di Pontianak.

Tak hanya disiksa, kata Nuraeni, ia juga mengaku tidak digaji oleh sang majikan selama satu tahun. “Awalnya saya dijanjikan oleh agen di Jakarta digaji satu bulan 450 RM. Tetapi setelah saya bekerja, gaji itu tidak ada sama sekali. Yang ada hanya disiksa dan siksa aja, kata Nuraeni.

Ia pergi ke Malaysia karena iming-iming tawaran kerja nyaman di Malaysia. Ia susah payah meminjam kepada tengganya sebesar Rp2 juta untuk pembuatan paspor dan biaya perjalanan. “Waktu itu sih, janjinya kerja enak, digaji full tanpa potongan apapun."

Untuk pulang ke Indonesia, ia kabur dari majikannya pada Minggu 18 Desember 2011. Ketika itu ia harus berjalan kaki sejauh 10 kilo meter untuk sampai di sebuah terminal di Sibu Sarawak Malaysia.

Beruntung ketika itu ada seseorang yang iba melihatnya. Maka iapun dititipkan ke sebuah bus menuju Entikong Kabupaten Sanngau, Kalbar. Pada 19 Desember 2011 ia sampai di Entikong dan langsung dinaikkan ke bus yang hendak menuju Kota Pontianak.

“Minggu malam saya pergi dari Malaysia. Saya sudah nggak tahan lagi disiksa terus menerus oleh dua majikan saya. Makanya saya kabur. Saya berjalan kaki sejauh 10 kilometer. Saya gak punya apa-apa lagi, saya hanya bawa baju tiga stel saja. Semua identitas saya ditahan oleh majikan saya di Malaysia, nggak tahu juga alasan apa menahan paspor saya,” kata Nuraeni.

Saat ini, Nuraeni sudah berada di Pontianak. Ia sempat terdampar selama empat hari lamanya di Pelabuhan Dwi Kora Kota Pontianak. Ia menginap di sebuah rumah makan di pelabuhan itu. “Alhamdulilah masih ada orang yang baik kepada saya. Selama empat hari saya terlunta – lunta di pelabuhan. Lalu, ada seseorang yang kasihan kepada saya. Saya benar-benar berterimakasih banyak orang yang menolong saya, “kata Nuraeni, sesenggukan.

Empat hari tinggal di rumah makan, suatu hari ada orang yang merasa iba. Ia diantar ke polisi. “Tadi saya sudah laporan kejadian yang menimpa saya ini ke Polisi. Nah, setelah saya membuat laporan itu, saya dibawa ke Dinas Sosial Pemprov Kalbar. Saya mendapat kabar juga, bahwa hari ini juga saya dipulangkan ke daerah saya."

Sementara itu, Agustini, Staf Dinsos Pemprov Kalimantan Barat yang menangani TKI mengakui, Nuraeni mengaku sering dianiya oleh dua majikannya di Malaysia, sampai mengalami depresi berat.

Dari bekas luka di tangan dan kaki Nuraeni, ia diduga kerap mendapat siksaan. "Kami akan segera memulangkan Nuraeni hari ini juga,” kata Agustini.

Sumber : vivanews
Catatan : “Tangan saya, kaki saya dipukuli pakai sapu lidi. Ini muka saya juga ditampar, sampai memar biru oleh majikan saya di Malaysia. Saya berharap dapat uang banyak kerja di Malaysia. Malahan derita saya dapatkan,” tutur Nuraeni, kepada VIVAnews.com, Jumat 23 Desember 2011, di Pontianak.

lagi - lagi malaysia selalu berbuat hal yang sama, sampai kapapun malaysia tidak pernah merubah sikapnya yang selalu menyiksa TKW dari indonesia, kalau sudah watak memang susah malaysia memang pantas dijuluki negara sampah! suka menyiksa TKI indonesia.

ini adalah fakta nyata yang tak pernah kunjung usai, apapun rencana pemerintah dalam menyelesaikan masalah TKI yang berada dimalaysia, tetap saja hasilnya nihil, karena ibarat kata malaysia bagai kebo dungkul, dablek, mau se enaknya sendiri memperlakukan TKI indonesia dan ini sangat merugikan TKI indonesia. cobalah tengok wahai malaysia macam mana negaramu ini????

Anwar Ibrahim

Anwar Ibrahim
saat ini generasi muda Malaysia hanya mengenal Indonesia dari TKI dan lagu “rasa sayange” yang diributkan. Mereka kurang mengenal tokoh pemikir Indonesia seperti Mohammad Natsir dan Buya Hamka. dengan kata lain pemuda malaysia tidak tau apa - apa tentang indonesia mereka buta sejarah indonesia.

Pengunjung Online

Statistik Pengunjung

website hit counter

Tukar Link

Arsip Blog

dari Bung Admin

jangan hanya ada kejadian TKI kita ingin di penggal lehernya,dihukum pancung,disiksa,dan diperkosa kita baru menyadarinya, tapi pemerintah kita harus melek dan berbuat sebelum semua itu terjadi. negara indonesia harus serius dalam menangani masalah TKI indonesia. karena ini menyangkut masalah nyawa, tenaga dan harga diri indonesia dimata dunia khususnya dinegara malaysia dan arab saudi yang sudah menjadi langganan masalah dalam hal TKI.

efek dari sulitnya lapangan kerja di indonesia, dan minimnya peluang kerja bagi rakyat miskin membuat rasa tidak percaya rakyat indonesia terhadap pemerintahnya, hal inilah yang mendorong, memicu bagi segelintir warga indonesia untuk hijrah mencari rejeki dinegara lain.

apakah hal ini salah? atau siapa yang harus disalahkan, pemerintah atau rakyatnya?

Alasan Benci Malaysia

Kenapa Orang Indonesia benci malaysia?
mau tau alasanya?

masukan kata sesuka anda.

Dari Bung Admin

akibat kebodohan generasi muda malaysia, sehingga
pemuda - pemuda malaysia tidak mampu menyebut
kata indonesia.

Perlu saya luruskan bahwa, menyebut kata indonesia
bukan indon, tapi INDONESIA.
untuk itu pemuda - pemuda malaysia
harus banyak belajar lagi. dan jangan mau di bilang
pemuda bodoh dan tak berpendidikan.

Pengikut